Senin, 19 Januari 2015

Jiwa




Kutujukan doa-doa pada Pengeran Jagad Raya
Pada jiwa yang tak mengenal kesedihan
Cukupkan duka pada diriku saja
Berikan hukum pada diriku saja
Kuagungkan titah kedua malaikat kehidupanku
Berharap bilik syurga kuraih kelak

Rembang, 2015

Sabtu, 17 Januari 2015

Air Mataku Menjadi Tumbal Kebahagiaan



Kulucuti cinta yang bersemayam anggun dalam relung jiwaku. Menghempaskan segala asa, janji dan harap yg pernah kita bangun tanpa tebus. Dan memang benar, rencana selalu lebih panjang dari kenyataan. Dulu, kamu kerap menyulamkan mimpi indah di atas deritaku yang kamu kira aku ini cuma bisa menangis. Kamu menguatkan aku yang sering berdarah, membisikan terus pada telingaku bahwa dunia ini tak akan kejam bagi orang baik, lahadlah yang akan melapangkan tempat untuk mereka yang iri akan duniaku. Begitu katamu, dan aku percaya pasrah setelahnya. Aku memimpikan kamu sebagai pangeran berkudaku yang mampu melindungiku dari terpaan badai di semesta raya, kamu berjanji selamanya di sini di tempat peraduan hatiku paling berlian demi menopang segala rasa. Lelaki memang selalu begitu dan perempuan cukup percaya akan harapan-harapan dengan merawatnya meski tak akan menuai apalagi berbuah. Sudah kucukupkan bahagiaku denganmu sampai pada titik ini saja, Tuan. Belum sembuh luka yang tergores dulu, kau telanjangi aku dengan nanah yang menyayat kewarasanku. Sudah kutenggak habis air mataku sendiri, agar tak ada lagi kesedihan yang setia terhadapku. Lukaku tak ada penawarnya sekarang. Hidup bagaimana yang ingin kau kekalkan, Tuan? Setelah kau berhasil menghempasku di tengah hutan temaram penuh duka. Dan benar, hanya aku yang akan menyelamatkan lukaku sendiri. Ya, aku harus kuat.
Baiklah, jika memang begini menjadi satu keputusan yang bijak untuk kita. Aku kembali dengan diriku sendiri dan kamu terus lanjutkan mimpi-mimpimu dengan dirimu sendiri, pula. Pintaku, jangan pernah melupakan yang sudah-sudah. Meski terluka, kuingin dengan saling mengingat, kita, maksudnya aku dan kamu, akan terus menemukan hal baik yang tak kita temukan dulu.
Terima kasih pada kamu yang dipilih Tuhan untuk mampir di hidupku dan mengajarkanku kekuatan. Aku tak pernah menyesal pernah dengan sangat baik mengenalmu selama ini. Keindahan perasaan tetiba runtuh dengan hanya sekali temu. Sekarang kubangun kekuatan untuk pertahanan diriku lagi, setidaknya aku berusaha tidak terjatuh dalam hal yang sama. Kutanggalkan gaun hitam kesedihan.

Tualang...




Selamat bersyukur bagi setiap insan yang memang sedang merasakannya sekarang. Sepertiku. Tak akan pernah kamu merasa menyesal jika semua yang telah terlalui, kamu sertakan Tuhanmu di dalamnya. Kali ini ijinkan aku sedikit menulis roman yang mungkin kalian sebut sebagai picisan panjang lebar demi memenuhi permintaan hati yang hampir teraniaya oleh kesakitan di dalamnya yang jika tulisan ini tak terurai, makin dalam luka makin deras air mata menetes. Bukankah benar, hidup itu tentang menjadi pahlawan untuk diri sendiri? Kurasa demikian. Aku berusaha memperjuangkan diriku, hidupku dan bahagiaku. Tak semudah membalikkan telapak tangan, tak segampang mengedipkan kelopak mata.

Tualang empat hari yang lalu, cukup dan lebih memberikanku pelajaran hidup-sekali lagi, untuk memerdekakan hidupku, tentunya. Kota pudak memberi banyak peristiwa kehidupan yang belum pernah kudapat sebelumnya. Tujuan awal singgah di kota itu sebenarnya ingin bertemu saudara sehawa yang sudah menjadi saudaraku sejak aku berumur 12 tahun. Kufikir, aku tepat melarikan diri dari kota rantauku ke tempat dia untuk sekedar merasa nyaman dengan wejangan rohaninya. Menghabiskan waktu berdua saja di kamar tidur dengan berbagai cerita kehidupan masing-masing, masing-masing saling menyemangati, menopang keluh-kesah, ini-itu, suka-duka, dalam satu wadah yang bernama temu. Kali ini rinduku bertuan.

Baiknya, rencanaku dibelokkan Tuhan kearah yang sama sekali tak kuduga. Empat hari di kota pudak, nyaris seperti empat tahun. Kesedihan membuat lambatnya waktu untuk bergerak. Rinduku tak bisa intens dengan hanya bertemu temanku di sana. Tuhan ternyata telah menyiapkan peristiwa dan kejadian yang mampu membuatku menulis ini dengan kuat, tak rapuh namun terus mengalirkan air mata. Bersama orang baru dengan cerita indah di dalamnya. Kukuatkan tulang-tulangku agar tak patah, kusangga dengan keikhlasan dan syukur yang ruah. Agar nanti jika kutemui diriku sendiri yang gagal berdiri, ada seseorang yang bersedia mengingatkan tulisan ini padaku, bahwa dalam tulisan ini tersimpan banyak kesedihan di setiap huruf-hurufnya, bahwa di tulisan ini aku mampu melewati empat hari yang nyaris merenggut warasnya jiwaku. Ditunjukannya padaku, pelajaran hidup tentang kehilangan dan keikhlasan oleh tangan Tuhan.

Hingga sampai kuselesaikan tulisanku ini, ternyata awan mendung tak kunjung hilang, berarak meminta kenangan berlomba menjadi jawara hatiku sendiri. Dipaksanya aku menengok yang sudah-sudah dengan luka penuh darah dan nanah. Menggulungkan kebahagiaan kemudian menggelar altar kenangan. Aku percaya, aku harus meniti luka hidup terlebih dahulu sebelum merayakan kemenangan bahagia. Bersulang dengan sepinya jiwa pun butir air mata. Kucuri genang sesal kemudian meramunya sebagai obat kekuatan yang akan kuminumkan saban malam. Berharap aku segera sembuh. Klimaksnya aku mahfum, kini kembaraku telah berujung. Kuselesaikan perayaan sepi sendiri dengan sekuat yang kubisa.